Kediri, JuKe.co.id – Dengan semangat bulan Ramadhan, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Kediri menggelar aksi sosial di panti asuhan Darul Aitam Budi Mulya, di Desa/ Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Selasa (17/3/2026).
Kegiatan sebagai bentuk kepedulian berkelanjutan dari institusi Adhyaksa terhadap masa depan generasi muda di wilayah Kediri.
Selain memberikan paket sembako berupa beras, minyak goreng, gula dan telor, Kejaksaan negeri Kabupaten Kediri juga memberikan santunan kepada para anak yatim.
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Kediri, Dr. Ismaya Hera Wardanie mengatakan, kunjungan ke Yayasan Panti Asuhan Darul Aitam untuk berbagi kebahagiaan dan memberikan motivasi kepada anak-anak yatim.
“Saya ingin mereka tetap semangat belajar. Harapannya, ke depan mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mereka tidak kekurangan apa pun, sama seperti anak-anak di luar sana yang masih bersama orang tuanya,” Kata Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Kediri, Dr. Ismaya Hera Wardanie.
Kajari Ismaya juga memberikan pesan serius terkait penggunaan media sosial (medsos) di kalangan remaja, khususnya anak perempuan. Menurutnya, medsos sering kali menjadi pintu masuk bagi pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan kriminal.
”Medsos sering dijadikan pintu masuk orang berniat tidak baik untuk menarik anak-anak keluar dari lingkungan amannya. Terutama anak perempuan, jika sudah merasa dekat atau suka, sangat mudah dipancing keluar,” tegas Ismaya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan media untuk ikut berpartisipasi dalam mengedukasi anak-anak agar tidak menjadi korban kekerasan.
Sementara pengasuh Yayasan Panti Asuhan Darul Aitam, Siti Nafiah mengaku sangat bersyukur atas perhatian konsisten yang diberikan oleh pihak Kejaksaan setiap tahunnya.
”Alhamdulillah, saya bersyukur banget. Bantuan ini sangat meringankan beban kami dalam mengasuh 30 anak di sini,” ungkap Siti Nafiah.
Ia menjelaskan bahwa panti asuhan yang telah berdiri sejak tahun 2006 ini menampung anak-anak dari berbagai daerah, bahkan ada yang berasal dari Papua. Selama bulan Ramadan, anak-anak disibukkan dengan kegiatan religi seperti tadarus Al-Qur’an, kajian kitab, hingga salat Tarawih berjamaah.
”Kami menyekolahkan mereka sampai lulus SMA dan membekali dengan ilmu agama. Kami juga panggilkan guru ngaji, guru matematika, dan bahasa Inggris agar mereka maju dan bisa mandiri di masa depan,” pungkasnya. (jiz)









Discussion about this post