Kediri, JuKe.co.id – Terkait adanya sekelompok orang yang dimotori oleh KH Imaduddin bin Usman dari Banten yang menyatakan bahwa para Habaib dari nasab Ba’alawi bukanlah dzuriyah (keturunan) Rasulullah Muhammad SAW, pengurus Perkumpulan Umat Indonesia (PUI) Kediri menyatakan sikapnya. Rahmat Mahmudi selaku Ketua PUI Kediri Raya serta sebagai Koordinator Aliansi Ulama dan Tokoh Jawa Timur merasa perlu untuk menyampaikan pandangan dan sikap kami sebagai berikut.
“Pertama, bahwa kami sama sekali tidak percaya terhadap pandangan KH Imaduddin cs yang menolak nasab Ba’alawi sebagai dzuriyah Nabi dengan segala dalilnya. Karena, menurut kami pandangannya itu tidak berdasar dan sangat bertentangan dengan pandangan yang sudah masyhur dari para Kyai-kyai sepuh terdahulu yang meyakini bahwa para Habaib dari nasab Ba’alawi adalah Dzuriyah / keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Kyai-kyai sepuh itu antara lain Syaikhona Kholil Bangkalan, Hadrotusyaikh Hasyim Asy’ari, Kyai Hamid, Kyai Maimoen Zubair dan lain-lain. Pandangan Imadudin itu juga bertentangan dengan pandangan Mufti-Mufti (Ulama Islam) dari negara-negara Arab yang selama berabad-abad mengakui Nasab Ba’alawi sebagai Dzuriyah Rasulullah Muhammad SAW,” Kata Rahmat Mahmudi selaku Ketua PUI Kediri Raya, dalam rilis yang diterima oleh redaksi JuKe.co.id , Sabtu (25/1/2025).
Rahmat menambahkan, Kedua bersandar pada pandangan dan keyakinan kami bahwa Nasab Ba’alawi adalah keturunan Nabiyullah Muhammad SAW maka kami mengajak seluruh ummat Islam agar tidak mengikuti atau terpengaruh terhadap pandangan dan ajakan Imaduddin cs untuk tidak mengakui para Habaib (nasab Ba’alawi) sebagai keturunan Nabi.Mengapa ? Karena pandangan ini sangat berbahaya, terutama bisa memecah belah ummat Islam, bisa membenturkan antara Ulama dan Habaib, dan lebih parah lagi adalah berpotensi menghancurkan kepercayaan ummat Islam terhadap para Habaib dan Ulama. Jika kesemuanya itu terjadi maka secara lebih luas akan sangat membahayakan eksistensi Agama Islam.
Ketiga, disamping itu kami perlu mengingatkan agar kita senantiasa menggunakan akal sehat dalam menyikapi fenomena ini sehingga tidak mudah terprovokasi oleh propaganda Imaduddin cs yang tak henti-hentinya menyebar kebohongan tentang terputusnya nasab Ba’alawi dari Rasulullah, diiringi ujaran dan ajakan untuk membenci dan memusuhi para Habaib, bahkan lebih dari itu mengajak ummat Islam membenci dan memusuhi ras Arab pada umumnya dan Yaman pada khususnya dengan membangkitkan sentimen pribumi versus Arab. Sungguh ini sangat membahayakan ukhuwah Islamiyah dan bahkan ukhuwah Wathoniyah.
Keempat, kami juga menghimbau kepada seluruh ummat Islam untuk mewaspadai langkah-langkah Imaduddin Cs serta kelompok-kelompok pendukungnya yang tidak lagi sekadar mengajak ummat Islam menolak nasab Ba’alawi dan membenci Habaib, melainkan mulai berani dan ‘nrunyam’ dengan membuat gerakan penolakan terhadap acara-acara Sholawatan yang digelar oleh para Habaib seperti misalnya Sholawatan Habib Syech di Tulungagung, Banyuwangi, Kebumen dsb, sedangkan kita tahu bahwa itu semua adalah kegiatan syi’ar dan dakwah Islam. Untungnya masih banyak Kyai, Ulama dan laskar-laskar Islam yang berani membela para Habaib sehingga gelaran Sholawatan oleh Habaib tetap bisa dilaksanakan.
Kelima, kita mesti mewaspadai pula atas kemungkinan adanya agenda besar dari kelompok dan pihak-pihak yang selama ini memang tidak suka Islam bersatu dan menjadi besar. Mereka tidak akan pernah berhenti berupaya menghancurkan Islam. Segala macam cara ditempuh untuk mengadu domba sesama ummat Islam, mengadu domba Ulama dan Habaib, membenturkan Muslim Pribumi dan Arab, dan sebagainya. Kesemuanya itu muaranya adalah agar ummat Islam lemah dan tercerai berai sehingga mudah untuk dikendalikan oleh kekuatan pihak-pihak dzalim yang memusuhi Islam. Maka dari itu, kita semua ummat Islam mesti menjaga ukhuwah, tetap takdzim kepada Ulama dan Habaib, sebagaimana didawuhkan dan dicontohkan oleh ulama-ulama sepuh terdahulu.
“Semoga Allah menuntun kita ke jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang terdahulu yang telah diberiNya nikmat, dan bukan jalannya orang-orang yang dimurkai lagi tersesat.” Pungkas Rahmat Mahmudi, ketua PUI Kediri Raya. (Redaksi)









Discussion about this post