Kediri, JuKe.co.id – Lantunan gamelan mengalun, berpadu dengan langkah mantap para wisudawan yang berjalan menuju panggung kehormatan.
Di balik harmoni tradisi itu, tangan-tangan muda dari UKM Tari dan Karawitan (TK) Ghitanala Nusantara Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri bekerja mencipta suasana sakral penuh rasa bangga.
Selama tiga hari berturut-turut, UKM ini kembali dipercaya mengiringi prosesi Wisuda ke-67 UNP Kediri, sebuah bukti konsistensi mereka menjaga denyut budaya di kampus Kota Kediri.
Mohammad Faiz, mahasiswa semester lima Teknik Mesin, adalah satu dari puluhan anggota UKM TK yang memainkan gamelan di hari bersejarah itu. Ia tampak tersenyum di balik bonang barung, alat yang menjadi bagiannya sejak lama.
“Ya, pertama kami pastinya senang karena diberi kesempatan oleh pihak kampus untuk mengisi acara wisuda. Alhamdulillah, setiap tahun kami memang tampil di acara wisuda,” ujarnya, usai wisuda UNP Kediri ke-67 yang diselenggarakan di salah satu Hotel di Jalan Urip Sumoharjo, Kota Kediri.
Faiz mengaku, kecintaannya terhadap karawitan telah tumbuh sejak kecil. Ia menilai seni tradisi bukan sekadar hiburan, melainkan napas kehidupan yang melekat pada identitas bangsa.
“Kalau diukur seberapa besar kebanggaan saya, mungkin nggak bisa. Karena saya sudah belajar seni dari kecil, jadi seperti sudah mendarah daging,” tuturnya.
Persiapan menuju pementasan, lanjut Faiz, dilakukan secara intens dalam waktu singkat.
“Biasanya latihan maksimal itu satu bulan lebih, tapi kali ini kurang dari satu bulan. Kami latihan intens selama tiga hari menjelang acara,” katanya.
Tantangan terbesar, menurutnya, justru bukan pada teknik, melainkan pada kekompakan. “Tantangannya itu di chemistry. Harus sering kumpul dan latihan bareng supaya rasa dan iramanya bisa menyatu.
“Keberagaman anggota UKM TK, sekitar 20 mahasiswa dari berbagai fakultas, justru memperkaya harmoni mereka. “ Untuk hari ini kami tampil 15 orang dari fakultas berbeda, tapi satu tujuan yakni menjaga warisan budaya,” tambah Faiz.
Bagi Wahyudi, dosen PGSD sekaligus penata musik UKM TK, peran seni karawitan di kampus tak sekadar pelestarian, melainkan pendidikan karakter.
“UKM Tari dan Karawitan lahir dan berkembang karena dukungan luar biasa dari UNP Kediri. Dalam visi misinya, kampus ini memang menempatkan seni dan budaya sebagai pilar pengembangan mahasiswa,” ujarnya.
Menurut Wahyudi, setiap karya yang lahir dari UKM TK yang dibina oleh Ayu Titis Rukmana, M.Sn. Tidak hanya bersifat estetis, tapi juga historis.
“Banyak karya yang kami tampilkan lahir dari kajian sejarah. Rektor sendiri mendorong agar karya seni di kampus ini punya nilai kesejarahan. Jadi bukan sekadar pentas, tapi juga bentuk penghormatan pada budaya bangsa,” ungkapnya.
Ia mencontohkan, dua karya tari baru baru-baru ini dipentaskan oleh UKM TK, yakni “Pesona Nusantara” dan “Gureh Dure”. Keduanya mencerminkan semangat eksplorasi budaya yang berakar kuat pada identitas lokal dan nasional.
“Karya Pesona Nusantara menonjolkan keindahan ragam budaya di Indonesia melalui perpaduan gerak dan irama tradisional. Sementara Gureh Dure berorientasi pada budaya Madura, menggambarkan semangat, keteguhan, dan karakter masyarakatnya yang kuat serta dinamis,” papar Wahyudi.
Ia menambahkan, pembelajaran di UKM TK tidak diarahkan untuk mencetak seniman semata, melainkan manusia yang memiliki kepekaan, disiplin, dan rasa kebersamaan.
“Belajar karawitan dan tari itu belajar mengelola perasaan, manajemen kelompok, dan etika. Karena karawitan adalah kerja tim, mahasiswa dituntut disiplin, tepat waktu, dan punya chemistry yang sama,” katanya.
Bagi Wahyudi, proses kreatif itu juga menjadi sarana mahasiswa untuk membangun karakter melalui seni.
“Kesenian itu tidak melulu soal pelestarian, tapi juga pengembangan. Anak muda yang mau memainkan gamelan atau menari dengan irama tradisi adalah hal luar biasa di era modern ini. Dari situ kita bisa menanamkan kebanggaan dan cinta terhadap budaya Nusantara,” ujarnya penuh semangat.
Rektor UNP Kediri, Dr. Zainal Afandi, menegaskan bahwa kehadiran gamelan di setiap prosesi wisuda merupakan bagian dari branding kampus.
“Ini adalah branding UNP Kediri sebagai kampus yang mengembangkan seni budaya. Gamelan adalah budaya adi luhung bangsa kita, bukan hanya harus dilestarikan, tapi juga dikreasikan,” ujar Zainal.
Ia menilai pelestarian tanpa inovasi akan membuat tradisi kehilangan napasnya. “Kalau kita hanya melestarikan tanpa mengkreasikan, budaya tidak akan berjalan dinamis mengikuti perkembangan masyarakat,” ujarnya.
Wisuda ke-67 UNP Kediri, lanjut Zainal, menjadi momentum simbolik bagi mahasiswa untuk melangkah ke masyarakat dengan membawa nilai-nilai intelektual dan kultural.
“Ini langkah awal bagi mereka untuk mengabdi pada bangsa. Kami berharap kemampuan dan kompetensi yang dimiliki bisa menjadi energi baru bagi kemajuan Indonesia,” katanya.
Dengan denting gamelan dan gerak tari yang berpadu dalam harmoni, UKM Tari dan Karawitan Ghitanala Nusantara bukan sekadar pengiring upacara. Mereka adalah penjaga nyala tradisi, penggerak semangat kebersamaan, dan wajah budaya kampus yang terus menari di antara modernitas.(jiz)









Discussion about this post