Kediri, JuKe.co.id – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Anwar Iskandar, atau yang akrab disapa Gus War, memberikan pesan mendalam sekaligus peringatan keras bagi para kepala daerah di Indonesia.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Kota Kediri ini menyoroti akar permasalahan korupsi yang kerap menjerat Bupati maupun Wali Kota.
Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Gus War membedah dua faktor utama mengapa seorang pemimpin daerah terjebak dalam praktik rasuah: faktor sistemik (biaya politik) dan faktor gaya hidup (lifestyle).
Antara Biaya Politik Mahal dan “Korupsi Terpaksa”
Gus War mengungkapkan bahwa tidak sedikit kepala daerah yang terjerat korupsi karena merasa “terpaksa” demi mengembalikan modal kampanye. Menurutnya, biaya untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin daerah di Indonesia sangatlah tinggi, mencapai miliaran rupiah.
”Ada kalanya korupsi itu karena terpaksa. Waktu pemilihan, biaya yang dikeluarkan sangat banyak. Jika hanya mengandalkan gaji resmi selama lima tahun, jelas tidak mungkin bisa menutup modal tersebut,” ujar Gus War, Pengasuh Ponpes Al Amien dan Ketua MUI Pusat, saat ditemui di kediamannya, Kamis (22/1/2026).
Beliau mencontohkan secara gamblang estimasi biaya politik yang bisa mencapai angka Rp10 miliar hingga Rp50 miliar. Ketimpangan antara pendapatan resmi dan pengeluaran kampanye inilah yang kemudian memicu praktik ilegal di lingkungan birokrasi.
”Akhirnya, jabatan-jabatan strategis atau kepala bagian dijadikan alat untuk mendapatkan keuangan (setoran). Ini dilakukan demi mengembalikan modal yang sudah keluar,” tambahnya.
Jebakan Gaya Hidup Sosialita dan Dorongan Keluarga
Selain faktor biaya politik, Gus War juga menyoroti fenomena korupsi yang dipicu oleh gaya hidup mewah. Beliau menekankan bahwa tuntutan untuk tampil sebagai “kaum elit” seringkali membuat pejabat lupa diri, bahkan terkadang dipicu oleh tekanan dari lingkungan keluarga sendiri.
”Ada juga korupsi karena memang gaya hidup atau keinginan yang terlalu tinggi. Kadang-kadang, pengaruh dari istri yang mendorong untuk hidup ala sosialita mewah, padahal penghasilan tidak mencukupi,” jelas ulama kharismatik asal Kediri tersebut.
Terjebak dalam pergaulan elit tanpa landasan integritas yang kuat membuat banyak pejabat menghalalkan segala cara demi menjaga gengsi dan penampilan.
Dampak Sosial: Malu Hingga ke Anak Cucu
Gus War mengingatkan para pejabat untuk berhati-hati dan menjaga integritas. Beliau menekankan bahwa konsekuensi dari korupsi bukan hanya berurusan dengan hukum (borgol dan tahanan), tetapi juga beban moral bagi keluarga yang tidak berdosa.
”Jangan sampai tangan diborgol, masuk tahanan, dan wajah terpampang di media. Bayangkan dampaknya ke anak-anak. Mereka bisa malu sekolah karena perbuatan bapaknya,” tegas Gus War sebagai penutup nasihatnya.
Pesan ini menjadi pengingat penting bagi para calon pemimpin maupun pejabat aktif di seluruh daerah untuk kembali ke jati diri pemimpin yang melayani, bukan pemimpin yang mencari keuntungan pribadi melalui jabatan. (jiz)










Discussion about this post