Kediri, JuKe.co.id – Sungai Brantas Kota Kediri, menjadi saksi ratusan penambang pasir tradisional, yang menggantungkan hidup dari butir-butir pasir.
Aktivitas penambangan pasir tradisional tersebut, telah berlangsung selama lebih dari 30 tahun. Dan mereka terus menjaga tradisi dan kelestarian sungai Brantas.
Meski mereka sering dituduh melakukan perusakan lingkungan, karena mengambil pasir di sungai Brantas, namun nyatanya para penambang ini justru ikut menjaga kelestarian lingkungan.
Karena saat mengambil pasir di dasar sungai Brantas, mereka kerap menemukan sampah plastik. Sampah-sampah tersebut kemudian dipilah dan dikumpulkan untuk dibawa ke daratan.
“Banyak yang menilai kita jika penambangan pasir ini yang berpotensi merusak fondasi jembatan dan ekosistem sungai. Justru kami ikut menjaga kebersihan sungai Brantas. Karena kita sering menemukan sampah plastik di dasar sungai Brantas, yang kemudian kita bawa kw daratan, untuk di buang di tempat sampah plastik,” Kata Marlan, ketua paguyuban penambang pasir tradisional, saat ditemui di pinggir sungai Brantas, Selasa (12/5/2026).
Menurut Marlan, aktivitas penambangan di lokasi tersebut dilakukan secara tradisional dan manual tanpa menggunakan alat berat ataupun mesin penyedot pasir.
“Di sini memang tidak ada mekanik, adanya manual, murni manual. Kalau ada penambang pasir mekanik, pasti akan kami tolak,”imbuh Marlan.
Ia menjelaskan, para penambang bekerja dengan cara menyelam hingga kedalaman sampai 4 meter, menggunakan alat tradisional seperti songkro, pacok, dan donak.
Sementara perahu bermesin yang terlihat di lokasi hanya digunakan sebagai sarana transportasi menuju titik penambangan.
“Kalau ada mesin di perahu itu hanya membantu ke tengah dan ke pinggir sungai, bukan untuk mengambil pasir. Pengambilannya tetap manual,” ujarnya.
Saat ini, di wilayah kota Kediri terdapat 8 titik penambangan dari wilayah Semampir hingga Mojoroto, yang semuanya beroperasi secara manual.
Para penambang pasir mengaku, untuk mengambil pasir di sungai Brantas, juga harus memperhatikan cuaca. Kalau musim penghujan dan aliran sungai Brantas deras, maka para penambang memilih tidak mencari pasir.
“Kalau musim penghujan kita tidak berani mencari pasir, karena arusnya deras. Dan saya mencari pasir, kita sering menemukan sampah plastik yang ikut terbawa arus. Dalam sehari kita mampu memperoleh 80 sampai 100 ribu rupiah,” Kata Lutfi Zakaria, penambang pasir.
Pihak penambang berharap tidak ada generalisasi terhadap seluruh aktivitas tambang tradisional akibat dugaan pelanggaran yang dilakukan oknum tertentu. (jiz)











Discussion about this post