Kediri, JuKe.co.id – Pertumbuhan ekonomi Kota Kediri tercatat mengalami perlambatan dan menjadi yang terendah di wilayah Mataraman pada awal tahun 2026.
Kondisi ini menjadi sorotan utama dalam forum “Harmoni” (Hadir untuk Membangun Kolaborasi, Edukasi, dan Sinergi) yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kediri, Selasa (14/4/2026).
Deputi Kepala Perwakilan BI Kediri, Dea Andarina, mengungkapkan bahwa ketergantungan pada sektor industri pengolahan yang masih dalam tahap pemulihan menjadi pemicu utama melambatnya ekonomi di Kota Kediri.
Hal ini kontras dengan Kabupaten Pacitan yang justru mencatatkan pertumbuhan tertinggi melalui ekspansi sektor pariwisata dan perikanan.
Untuk mengatasi perlambatan tersebut, BI Kediri mendorong pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk mulai melirik sektor non-industri.
”Kita harus menciptakan inovasi-inovasi ekonomi lainnya. Sektor pariwisata dan event kreatif, seperti Kediri Half Marathon, harus didorong lebih kuat untuk mendatangkan wisatawan, apalagi fasilitas bandara sudah tersedia,” ujar Dea.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi di 13 kota/kabupaten wilayah kerja BI Kediri berada di angka 4,31%. Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan Jawa Timur dan Nasional yang menyentuh angka 5%.
Meskipun melambat, BI menegaskan resiliensi ekonomi domestik tetap solid. Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor penggerak utama, sehingga masyarakat diimbau untuk tetap menjaga daya beli dengan berbelanja di produk UMKM lokal.
Di sisi lain, pengendalian inflasi di tiga kota pantauan (Madiun, Tulungagung, dan Kediri) masih terjaga di kisaran 0,4%. Namun, Dea memberikan catatan penting mengenai faktor global dan alam:
Lonjakan Harga Emas: Harga emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi akibat ketidakpastian politik dunia.
Ancaman Cuaca Ekstrem: Fenomena La Nina dan Godzilla El Nino (kemarau ekstrem) diwaspadai dapat mengganggu stabilitas pasokan pangan.
BI Kediri juga mencatat adanya kontraksi pada penyaluran kredit sebesar -0,7%, terutama pada segmen Kredit Modal Kerja. Hal ini mengindikasikan bahwa para pelaku usaha masih cenderung berhati-hati dalam melakukan ekspansi bisnis di tengah gejolak global.
Sebagai langkah mitigasi, BI Kediri berkomitmen memperkuat kapasitas UMKM melalui digitalisasi, pendampingan ekspor, dan pengembangan komoditas unggulan seperti kopi guna menjaga roda ekonomi tetap berputar di tingkat akar rumput. (jiz)










Discussion about this post